Category Archives: Fan Fiction

Smile.

cr as tagged

“Lo lagi ngapain ?”

Suaranya mengagetkan ku dari lamunan ku. Aku mengintip dari balik buku untuk melihat Jaejoong tersenyum kepadaku. Kepalanya dimiringkan dan matanya melihat kepadaku, dari dekat.

“Hei, lo nangis ?!” Jaejoong menganga. Aku langsung menghapus air mataku.

“Eng-ngga !!” aku potong dia bicara. Aku menundukkan kepalaku agar poni rambut ku menutupi mataku dan wajahku di sekitar mata yang sudah sembap.

Aku merasakan tangannya yang memegang daguku, dia mengangkat wajahku, lalu kami pun bertatapan.

“…………. Lo nangis gara-gara ini ?” dia tertawa kecil. Sambil menunjuk barang yang sedang kupegang.

God, his voice.

Suara ketawanya menggema di telingaku. Aku tertegun untuk beberapa saat. Aku mengerutkan mukaku, dan menutup buku yang daritadi kubaca.

Ya, aku nangis karena baca buku ini.

“Yaudah sih….” Aku mengeluh pelan. “Ceritanya sedih banget… udahan dong ketawanya” Lanjutku.

“Tentang apa sih ?” Balasnya.

“Hmmm, ada cewek… dia cinta banget sama seorang cowok, mereka udah sering main bareng dari mereka kecil” aku bercerita dengan pelan.

“Ga sedih ah” Balasnya lagi.

“Udah ah, gue masih baca nih. Lagi seru – serunya .” aku memalingkan mukaku.

Jaejoong mengubah ekspresi mukanya.

Dia terlihat serius dan……. Sedih ? oh no boy. I’m not going to be fooled by you .

Matanya berkelip dan bahunya bergerak saat dia menahan ketawanya. Kuputuskan untuk mengabaikannya dan lanjut membaca ceritanya. Tapi nampaknya dia masih ingin mendengar kelanjutan ceritaku.

“Yaa, pokoknya, pertemanan mereka kuat banget. Mereka berteman bertahun – tahun. Cowok itu temen baik nya si cewek dan begitu juga sebaliknya. Cowok itu juga selalu tau cara untuk ngehibur si cewek….”

Aku melihat ke arahnya dan dia masih menatapku. Menunggu.

“Ayo gapapa, lanjutin aja!” Katanya

Really ? I don’t think romance is your thing… “ Jawabku enteng.

“Ssshhhht. Udah lanjutin aja”

“OK, Jadi ceritanya mereka itu perfect banget lah kalo bareng. Mereka melengkapi satu sama lain. Sampe…….. suatu hari cowok itu menghilang, tanpa ngasih tau si cewek. Cewek itu patah hati, putus asa. Sebulan udah berlalu dan cewek itu masih nungguin cowok itu. Hari demi hari berlalu, tapi cewek itu masih terus berharap bahwa suatu hari cowok itu akan balik nemuin dia lagi. Setelah dua tahun, dia terima surat dan dia broke down . Ternyata cowok itu punya penyakit jantung, dia ga punya waktu banyak untuk hidup. Dia pergi tanpa cewek itu ketahui, dan si cowok menghabiskan tahun terakhir hidupnya menderita.. sendirian…”

Hening. Aku melihat kearahnya.  “Lo nangis ?”

Aku melihat matanya .

Oh, he’s teary.

Dia langsung menghapus air matanya.

“Engga! Ini ada sesuatu di mata gue”

“Ahaha…” Aku tertawa pelan “very sure thing..” Aku senyum dengan sarkasme.

Ending nya gimana ?”

Dia masih penasaran ?

“Hmmm. Maunya sih tadi langsung gue ceritain ke lo, tapi lo tiba – tiba dateng pas gue lagi mau baca ending nya …”

Dia menggembungkan pipinya dan akhirnya duduk di samping ku.

Duh, hangat tubuhnya. Please Jae. You’re gonna be the dead of me. Jae. Seriously.

“Yaudah cepetan sekarang baca, biar gue tau ending nya gimana” Dia mengeluh.

“Iyaaaa iyaaa. Mau aja sih gue. Tapi mana bisa baca kalo lo nya berisik” Jelas ku.

“Gue ga berisik !”

“Yaudah lo ga berisik. Tapi bossy” Lanjutku.

“Lo ah yang bossy” Balasnya.

“Engga!”

“Iya~”

“Engga!”

“Iyaa~”

“Engga! Udah! Titik. Pokoknya lo yang bossy” Aku bangun dan meninggalkannya.

“Ehh !! Sini !”

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

Aku telah menyangkal diriku sendiri.
Hal ini adalah susatu yang tidak mau kuakui.

Ini tak boleh terjadi…

Air mata jatuh di pipiku selagi aku menatap jendela dengan tatapan hampa.
Udara nya dingin. Bila panas pun, mungkin aku akan tetap merasa dingin.
Angin nya berhembus dengan kencang melewati dan meniupi pori – pori kulitku hingga aku merinding. Langitnya gelap, tidak ada satupun bintang yang bisa aku temui. Langitnya seperti lubang hitam yang tak berujung… just like my heart.

Idiot.

Lo janji ga akan ninggalin gue.

You promised me, didn’t you ?

ばか。

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

“Hei, lo gapapa ?”

“Pergi sana”

Aku pergi, memalingkan tubuh ku. Aku mendengar dia mendesah keras sebelum langkah kaki nya menghampiri ku. Lalu aku merasakan tangannya meraih tangan ku dan kurasakan tangannya yang lain meraih pipiku secara halus.

“Gue minta maaf ya udah telat di ulang tahun lo” Dia bilang.

“Terserah, gue ga marah kok” Aku bohong.

Jaejoong terdiam, akhirnya dia meletakkan kedua telapak tangannya di pipiku. Lagi – lagi, dia berusaha agar aku menatapnya.

Seriously, dia tau kelemahan gue apa gimana sih ?

“Oke. Ayo kita seneng – seneng. Gue tau cara biar lo seneng lagi .” Dia berkata sambil tersenyum.

“Apa ?”

Tiba – tiba dia menarikku, dan kita berlari.

“Mau kemana sih ?” aku berkata sambil terengah – engah.

“Liat aja nanti”

Kita terus berlari, sampai rasanya paru-paruku sudah kehabisan oksigen. Kaki ku pun sepertinya sudah mau menyerah. Hal yang membuatku masih berlari adalah tangan nya.
Ya, tangannya yang memegang tanganku.
Akhirnya kita sampai di tujuan, dan kita berada di….. taman lagi ?

“Mau ngapain disini ? udah mau gelap, sepi tamannya. Ga akan ada yang disini…..” Aku protes.

“Shushh. “ Yeap. That simple he makes me quiet. You know why ? he just smiled. Yeap. Hanya senyum.

Dia lagi – lagi menarikku, dan aku baru saja mau protes tetapi suaraku hilang saat melihat semua ini.

Ada padang rumput yang luas tepat di hadapanku. Terdapat pohon – pohon tinggi yang mengelilinginya. Hening membuat suara angin yang membelai rerumputan terdengar di kupingku. Matahari yang akan tenggelam pun membuat langit membentuk warna – warna. Membuat langitnya terlihat…. Magical.

“ I- .. Jae-.. . Cantik banget pemandangannya” Aku bicara sambil masih menatapi pemandangan yang ada di hadapanku.

“Ini belum semua” Dia tersenyum. Lagi.

God, kenapa dia harus senyum terus sih. No teasing. Please. Not good for my heart.

Tak lama, terlihat kunang – kunang jauh disana. Satu persatu kunang – kunang bermunculan.

“Mau kesana ?” Dia menaikkan satu alisnya.

Tanpa pikir panjang, akupun jalan kesana. Kunang – kunang mengelilingiku.

Thanks, Jae.

Anginnya sungguh terasa segar. Aku mencarinya, dan dia masih disana, melihatiku.

“Ayo sini !” Aku ajak dia dengan bahasa isyarat mengingat jarak kita lumayan jauh.

Aku kembali menikmati suasana di padang rumput ini. Aku berteriak sekencang – kencangnya. Aku mendengarnya tertawa. Akupun ikut tertawa. Saat aku melihatnya, dia tersenyum dan mengajak ku menari, berlari di sekitar padang rumput, berpegangan tangan.
Setelah lelah, aku memegang tangannya dan menatap matanya.
“Makasih ya. Makasih udah bawa gue kesini” Aku tersenyum.
Tiba – tiba dia menempelkan dahi nya ke dahi ku. Rasanya nafasku hilang entah kemana.
………..
“Gapapa, was this good enough for birthday girl ?”

“Yeap. More than enough. Makasih Jae. Sungguh.”


..
“Sama – sama”

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

Hatiku sakit. Sungguh sakit. Kurasa aku tak dapat menahan sakitnya. Dadaku terasa sungguh sesak. Ditambah dengan tangis ku yang tidak mau berhenti. Sekujur tubuh ku gemetar.
Setiap aku menutup mataku. Aku melihat senyumnya.

God, please. Make the pain go away.

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

Cheese!!

“Ga !”

Aku memalingkan muka dari kamera. Dia terdengar frustasi.

“Ayolaaah, foto aja. Ya yaya ?” Jaejoong memohon padaku.

“Gamauuuuuu. Ambil foto sama orang lain aja sana”

“Yaaah. Gue maunya sama lo, ayolah. Satu fotooooo aja. Please ? for me ?” Matanya menatapku.

That look. Kurasa apapun akan ku kabulkan bila dia terus – terusan menunjukkan mata seperti ini.

“Ok, satu aja ya.” Aku menyerah.

“Yesssss! That’s my girl
….
Dia memposisikan kameranya se strategis mungkin. Sepertinya dia memasang timer. Dia kembali kesampingku. Aku melihat kearah kamera, dan merasa terintimidasi oleh benda kecil itu. Mencoba tersenyum dan…

“Senyum nya jangan stiff gitu dong..” Dia protes.

“Gue emang ga fotogenik. Jangan salahin gue.”

Tiba – tiba dia menyentuh pinggangku dan menekan nya .

“EEEHHH ni anak” aku teriak. Tak lama aku tertawa, tak tahan menahan geli.

“Udah !! udah!!” Lanjut ku.

Aku tertawa sampai air mata ku keluar karena tak tahan menahan geli. Suara kameranya bahkan tak terdengar.

“Coba liat fotonya “ Pintaku. Kuambil fotonya .

“Ih, guenya jelek” Ku kembalikan fotonya ke tangannya.

“Engga. Cantik kok. Lo selalu cantik” Dia bilang dengan pelan sambil menatapi fotonya.
……
“Coba bilang lagi” Aku menatap nya.

“Lo cantik.”

Wait. Really ? he’s blushing ? I’m the one that supposed to blush.

“Cobaa bilang lagi”

“Lo… Lo sengaja ya ?” Dia menaikkan sebelah alisnya.

Aku menahan tawa. Aku mengigit bibir bawah ku. Sambil menutupi mukaku dengan tangan ku.
Lagi – lagi dia mengelitiki aku. Kami tertawa. Sampai badannya diatasku. Cahaya matahari terlihat seperti aura atau sinar yang mengelilingi nya. Rambut nya yang terkena matahari makin terlihat coklat. Aroma nya tercium oleh ku.

“Lo cantik kok.”

Tak sempat bereaksi, tiba – tiba bibirnya ada tepat diatas bibirku. Tidak menyentuh. Namun cukup dekat. Rasanya semua nafasku hilang entah kemana. Aku tak bergerak. Jantung ku berdegup terlalu kencang. Dan dia tersenyum.

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

Berhenti, tolong buat semua ini berhenti.
Ga lagi. Gue gamau lagi.

Aku memegangi kepalaku. Berusaha untuk tidak mengingat semua ingatan. Aku teriak.

Please. Gue bener – bener gamau inget lagi.

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

“Dia pergi”

Aku mengedipkan mataku, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh nenek tua itu.

Aku sedang berada di sebelah rumah sebelah Jaejoong. Ya, aku menghampiri tetangganya.

“Saya bilang, Jaejoong sudah pergi. Baru saja tadi pagi saya melihatnya pergi”

Rasanya ada bunyi berdenging di kepalaku. Rasanya ada yang ganjal.

“Gak mungkin, dia udah tinggal disini 18 tahun . Kenapa dia harus pindah ?”

Nenek itu mengangkat bahu nya. Sebuah isyarat bahwa dia pun tidak tahu. Matanya kosong seakan mau meneteskan air mata saat ini juga.

“Ibu gatau nak”

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

Gue gamau inget.

Pokoknya gue lupa akan dirinya.

Aku melihat diriku terpantul di kaca.
Ada seorang perempuan pucat, rambutnya berantakan, dan mata nya terlihat… kosong. Tidak ada kehidupan di pandangan matanya.

Siapa dia ?

She’s not me.

Ga mungkin dia itu gue.

Ga mungkin.

Aku memukul kaca dengan sekuat tenaga. Kaca nya pecah, pecahannya jatuh, berjatuhan ke lantai.
Aku terduduk di atas lantai yang dingin, termenung, dan lagi – lagi menangis.
Pecahan kacanya memotong kulitku. Tapi aku tak peduli.
Tak ada yang kurasakan selain sakit di hatiku ini.

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

“Lah, lo gatau ?“ Kata teman sekelasku.

“Tau….. apa ?”

“Dia punya penyakit kanker. “

Rasanya waktu berhenti berdetik, perkataan temanku seolah berdenging di kepalaku berulang – ulang seperti kaset rusak yang diputar.

“A-apa ?” Air mataku sudah mau jatuh. Tapi kutahan.

“Gue bilang, dia punya penyakit kanker. Makanya dia pergi ke luar negeri. Katanya dia gamau seorang pun ngeliat dia dalam kondisi ini”

“Lo salah !!!! Dia ga punya kanker!!” Aku membentak temanku.

Aku lari keluar kelas dan mengabaikan guru – guru yang memarahiku, memintaku untuk kembali.
Aku mengabaikan semuanya.
Lagi – lagi perkataan teman ku berdenging di kepalaku.

Dia kanker.

Dia kanker.

Dia kanker.

Jaejoong punya kanker.

…………

Dan gue gatau.

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

Cahaya matahari masuk melalui kaca jendela, aku membuka mataku, dan membutuhkan waktu untuk ku beradaptasi dengan cahaya yang masuk.

Seluruh ruangan berantakan, di lantai berserakan pecahan kaca. Tanganku juga penuh darah.

Sakit.

Aku bangun dari kasurku .

Time to clean up the mess. 

Tak sengaja aku melihat meja disamping kasurku, dan aku melihat fotoku bersamanya.

Ya, bersama Jaejoong.

Di foto, kami tertawa senang. Rasanya dadaku baru saja tertusuk melihat saat kita bersenang – senang. Memang, sudah dua tahun semenjak ia pergi meninggalkanku, tapi tetap saja, setiap memikirkannya, rasanya memori – memori bersamanya membanjiri pikiranku, rasa sakit pun tumbuh lagi akibat memori – memori yang teringat.

Aku rindu suaranya.

Aku rindu tawanya.

Aku rindu senyumnya.

Aku rindu dia.

God, I’m missing him. What am i supposed to do ?

Bell pintu berdering. Aku terbangun dari pikiranku yang nampaknya semakin lama semakin membawaku ke dalam kesedihan. Aku membuka pintu, dan tidak ada orang di luar. Tidak ada apapun kecuali sekotak paket kecil yang terbungkus oleh sampul coklat, tergeletak di depan pintu. Aku mencoba melihat ke sekeliling, dan kuputuskan untuk membawa paket itu masuk.
Aku duduk di sofa, dan perlahan kubuka paketnya. Didalamnya ada kotak ungu dan sepucuk surat. Kuputuskan untuk membaca surat nya terlebih dahulu.

Air mata ku terjun ke bawah saat kusadari tulisan milik siapa yang ada di surat.

It is his.
Hey, inget ga hari – hari yang lalu ?

Waktu kita bakalan pergi ke taman dan main petak umpet ?

Inget ga waktu lo maksa untuk main “Princess” dan gue harus jadi “Prince charming” lo yang menyelamatkan lo dari naga yang jahat ?

Inget ga waktu kita minum jus anggur bareng disamping danau ?

Dan lo selalu buang karton nya ke gue kalo gue nyoba – nyoba untuk dorong lo ke danau ? haha.

Inget ga waktu kita pergi ke pantai dan lo selalu ngumpulin kerang yang warna pink ?

Do you remember those days ?

I do.

Gue nulis ini diatas kasur kematian gue. Haha

Normalnya, mungkin orang – orang akan takut kalo mereka lagi diujung kematian, tapi gue ga kok.

Gimana mau takut kalo gue punya lo ?

Sekarang pun, dengan mengingat senyum lo, gue bakalan seneng.

Gue bahkan seneng untuk inget lo yang suka malingin muka.

Gimana lo bakal nge goda gue atau berantakin rambut gue walaupun lo tau, gue gasuka hal itu.

Gue inget semua tentang lo.

Gue gabakalan lupain lo. Never.

Not even in my death.

Live your life. Be happy. Dan jangan lupa, senyum untuk gue.

Gue akan ngawasin dan ngelindungin lo dari atas sana.

Gue akan selamanya dengan lo.

Kapanpun lo mau liat gue, lo bisa liat ke langit, dan lo akan tau bahwa ada gue disana.

Tiga kata emang ga cukup buat ngekspresiin cinta gue buat lo, tapi cuman itu yang bisa gue lakuin.

Aku Cinta Kamu.

I love you.

あいし”

That’s it ?

Saat aku membaca tulisan jepang nya yang tak lengkap, air mataku seperti air yang mengalir deras tiada henti.

Saat itukah dia… ?

Aku menutup mataku. Memegang erat paket yang ia berikan. Mencoba bertahan untuk melihat apa isi kotak ungu yang ia kirim.

Dengan tangan gemetar, aku membuka kotak nya. Di dalamnya ada cincin silver. Tidak ada berlian atau pun fancy things lainnya. Hanya cincin silver yang simple.

Di atasnya ada tulisan yang terukit di cincin.

Just Smile

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

“Hei, ceritain dong, gimana ending nya ?”

Aku tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang ada persis di belakang ku. Dia menyandarkan dagunya di bahu ku, lalu ikut melihat ke buku.

Aku tertawa pelan dan menoleh ke arahnya, melihat senyumku yang terpantul di matanya.

“Dia Senyum”

333333333333333333333333333333333333333333333333333333

Hey-o. this story is dedicated for Jaejoong lovers. i don’t own Jaejoong. just so you know. Credit for cheonsa. she’s the brain of the idea of the fic.