Topeng Monyet

Anda pasti familiar dengan atraksi yang satu ini, bagaimana tidak, atraksi topeng monyet merupakan atraksi akrobatik paling popular dan umum di pasar, jalan-jalan pedesaan, dan perkotaan di seluruh barat Indonesia.

Dahulu pertunjukan topeng monyet memang banyak disukai oleh anak-anak, baik pribumi maupun Belanda dan Eropa. Konon, atraksi ini bertahan terus hingga era 70-an. Bahkan, karena sangat terkenal, atraksi itu dapat dimainkan berkali-kali dalam sehari.

Pada tahun 1980-an, topeng monyet sangat dikenal di Indonesia, terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Saat melakukan atraksinya, kesenian Topeng Monyet ini melibatkan seorang pawang diiringi suara musik gamelan mengiringi atraksi topeng monyet yang biasanya digelar di halaman sebuah rumah. Lalu monyet yang sudah diajarkan berbagai atraksi dengan lincahnya meliuk-liukkan badannya mengikuti instruksi sang pawang yang mendampinginya.

Meski sudah ada sejak 30-an tahun lalu, namun belum ada litelatur resmi tentang Topeng Monyet. Hanya beberapa tulisan yang mengindikasikan kehadiran topeng monyet di Indonesia. Seperti Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, dalam novel sejarah berjudul Roro Mendut pada 1981. Ia menyebut istilah topeng monyet sebagai kethek ogleng atau berarti monyet yang serba bergerak tak seimbang, kikuk, dan lucu dan dimanfaatkan untuk ngamen dalam pertunjukan topeng monyet. Litelatur lain adalah ditemukannya dokumentasi foto koleksi Tropenmuseum Amsterdam, Belanda. Pada hasil jepretannya, Charles Breijer, anggota de Ondergedoken Camera atau juru foto Amsterdam yang bekerja di Indonesia pada 1947 sampai 1953 terdapat foto-foto topeng monyet seperti yang ada saat ini. Sementara itu Matthew Isaac Cohen, dalam bukunya berjudul: The Komedie Stamboel: Popular Theater in Colonial Indonesia, 1891-1903 di halaman 341, menjelaskan bahwa atraksi monyet dan anjing terkait dengan perkembangan seni pertunjukan komersial di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19.

Selain pertunjukan komersial berskala besar seperti sirkus, kelompok akrobatik Jepang, operet, dan burlesque (pertunjukan drama atau musik yang bertujuan membuat tertawa), ada juga hiburan berskala kecil: panggung pesulap Eropa, India dan Cina; balloonists (orang yang mengoperasikan wahana balon terbang), pertunjukan anjing dan monyet, serta seniman boneka. Istilah ‘pertunjukan anjing dan monyet’ yang disebut-sebut oleh Matthew Isaac Choen, kemudian dikutip oleh Peter J. M. Nas, dalam bukunya berjudul: The Indonesian Town Revisited. Dalam buku itu dia menulis sebuah catatan kaki tentang istilah topeng monyet. Dalam catatan itu dia mengatakan, pertunjukan yang menampilkan monyet dan anjing (seperti ditulis Matthew) direproduksi di Indonesia. Di Jakarta, kata dia, dikenal dengan nama ‘topeng monyet’, sementara di Jawa disebut ledhek kethek. Peter menambahkan, miniatur sirkus (topeng monyet) tersebut merupakan salah satu hiburan mengamen paling umum di pasar, jalan-jalan pedesaan, dan perkotaan di seluruh barat Indonesia. Pertunjukan akrobatik ini menjadi umum pada awal 1890-an. Dengan berbagai literartur tersebut, membuat asal-usul Topeng Monyet menjadi kurang jelas.

Tahukah Anda, Mengapa Topeng Monyet Selalu Dinamakan Sarimin?
Begini ceritanya “Ada seorang pengembara bernama sarimin, dia ini ingin memperoleh uang secara halal. maka dalam perjalanan itu dia memikirkan ide untuk mendapatkan uang, dan ketemu lah dengan kawanan monyet liar di hutan belantara..dan langsung aja si sarimin melatihnya dan menjadikan monyet ini sebagai sumber penghasilan uang.” Nah stelah sarimin ini meninggal, maka digantikan anak nya sebagai apresiasi perjuangan bapak sarimin ini maka setiap monyet yang dijadikan sebagai sumber penghasilan bernama sarimin.

Lalu bagaimana dengan sekarang ?

saat ini atraksi Topeng Monyet banyak menjadi kontroversial, mengapa begitu ?

menurut saya hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya daya tarik bagi masyarakat. Dengan majunya teknologi, kepedulian masyarakat berkurang kepada keberadaan topeng monyet ini. Dengan kurangnya kepedulian masyarakat, monyet-monyet ini semakin di eksploitasi dengan tidak terawatnya para monyet ini. Masyarakat semakin kasihan melihat monyet yang di eksploitasi secara berlebihan, bukannya terhibur.

Presiden RI sendiri mengaku prihatin dengan banyaknya atraksi topeng monyet di ibu kota. Menurut dia, monyet harusnya tidak dijadikan alat untuk mendapatkan uang. “Itu sudah menjadi isu internasional. Kasihan monyetnya”.

Saya sendiri sebetulnya menyukai atraksi topeng monyet, atraksi ini merupakan 1 dari sekian banyak atraksi di Indonesia yang menurut saya seharusnya dijadikan kebanggaan tersendiri. Menurut saya seharusnya di pertahankan, tetapi tidak dengan memperkerjakan monyetnya secara berlebihan. Alangkah baiknya jika monyet-monyet itu dipekerjakan sewajarnya, di beri makan sesuai dengan kebutuhannya. Alangkah baiknya lagi jika pengamen(pelatih) monyet tersebut menyayangi monyet nya sehingga tidak ada penyiksaan monyet yang harus dilihat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s