Penderitaan Manusia

Di dunia ini ada berbagai macam bentuk penderitaan yang terjadi pada manusia. Tentu saja, tiap manusia memiliki cobaan nya masing-masing. Kali ini, saya akan membahas beberapa penderitaan yang sering kita jumpai di Negeri kita ini , Indonesia.

Banyak cerita yang saya dengar tentang penderitaan. Terutama kisah penderitaan dari orang-orang yang ingin dan sekarang telah meraih kesuksesan. Sebut saja Helen Keller, dia terlahir membawa penyakit yang membuatnya tidak dapat melihat ataupun mendengar, tetapi dengan kelebihannya, dia dapat merasakan bentuk-bentuk disekitarnya melalui indra-indra lainnya yang ia miliki. Dengan kelebihannya, ia terus berusaha untuk menutupi kekurangannya. Karya nya pernah dianggap sebagai tindakan plagiat, tapi iya tidak putus asa, iya terus berusaha, dan sekarang, banyak karya miliknya yang telah membantu banyak orang buta.

Di Indonesia pun, banyak orang-orang yang patut diacungi jempol untuk usahanya yang tiada henti.

Ironis rasanya ketika melihat berita yang memberitahukan bahwa ada sekelompok anak yang harus menyebrangi sungai dengan jembatan yang bahkan sudah tidak layak disebut jembatan demi mendapatkan pendidikan yang seharusnya ia dapat, lalu melihat anak-anak disekitar saya yang terkadang menurut saya mereka itu tidak tahu caranya bersyukur. Mereka sudah dibiayai untuk sekolah, tetapi mereka bolos seenak jidat mereka tanpa memikirkan orang tua yang sudah membanting tulang untuk mencari uang yang akan dibayarkan untuk pendidikan mereka tersebut. Kasus seperti ini banyak sekali dijumpai di Indonesia. Ada juga anak yang tidak mampu bersekolah demi mencari uang untuk sebungkus nasi. Hal tersebut membuat saya miris ketika melihat orang yang tidak menghabiskan makanan nya

Ayah saya juga merasakan penderitaan semasa kecil nya. Ia dan saudara-saudaranya. Kakek saya merupakan seorang pahlawan di Indonesia. Dia memiliki aturan yang sangat keras terhadap anak-anaknya. Menurut saya, kakek saya hanya ingin agar anak-anak nya mandiri, tanpa bantuan orang lain. Ayah saya dan saudara-saudaranya dibuat untuk kerja semenjak mereka kecil. Ayah saya sudah melakukan berbagai macam kerja sampingan saat dia menginjak bangku SD. Ayah saya mengajar bermain gitar saat dia kelas 6 SD. Hebat bukan ? sayapun tidak mengerti bagaimana ayah saya bisa melakukan hal itu dengan umur yang relatif masih sangat muda. Tidak hanya itu, mereka juga mengumpulkan barang-barang bekas, seperti botol, untuk menjualnya kembali. Walaupun kakek saya memegang jabatan yang cukup tinggi, semua anak dari kakek saya tidak ada yang sekolah nya di biayai. Semua anak dari kakek saya membayarnya dengan uang yang diraih dari pekerjaan sampingan tersebut, dan sekarang, bisa saya bilang bahwa semua saudara dari ayah saya bisa hidup sukses. Sukses itu relatif. Banyak yang bilang bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Dan menurut saya, hal itu benar, karena dengan adalanya kegagalan, manusia seharusnya kembali bangkit dan mencoba dengan usaha yang lebih keras.

Jadi, sebesar apa pun penderitaan kamu sekarang ini, bersyukurlah karena pasti masih banyak yang lebih tida beruntung dari kamu, entah dari sisi materi atau mental. Sekian 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s